Penting! 10 Etika Ketika Mendaki Gunung

 
Sumber Foto
    Hai sobat gunung! berbeda dengan dulu, gunung saat ini menjadi salah satu pilihan destinasi wisata bagi sebagian masyarakat Indonesia. Animo masyarakat yang berkemauan mendaki sangat signifikan, terlebih saat viralnya film "5 Cm" yang dibintangi 5 aktor seperti Vedi Nuril, Pevita Pearce, Raline Shah, Igor Saykoji dan Denny Sumargo. Kegiatan mendaki gunung sebelumnya banyak didominasi oleh organisasi - organisasi kepecinta alaman. Tentu mereka dibekali ilmu, fisik, mental, serta tata krama dalam berkegiatan di alam. Tetapi seiring perkembangan zaman, kegiatan mendaki gunung menjadi populer, tetapi tidak diiringi dengan pengetahuan dasar tentang kegiatan tersebut dan hanya mengejar sesuatu, seperti untuk kebutuhan sosial media dan penasaran akan pemandangannya. Untuk itu ada baiknya menyertakan bagaimana kita seharusnya bersikap di alam, baik dengan sesama manusia maupun dengan alam itu sendiri.
    Tata krama dan etika menjadi penting ketika bersikap terhadap sesama manusia dan alam lingkungan gunung. Untuk itu, mari disimak apa saja yang perlu diperhatikan ketika berprilaku dan berkegiatan di alam bebas.

1. Hormat dan Sopan Terhadap Pendaki Lain
    Ada peraturan tak tertulis bagi para pendaki untuk saling bertegur sapa ketika bertemu baik saat naik maupun turun. Selain karena memiliki hobi yang sama, juga membangun karakter diri menjadi komunikatif ketika bertemu orang baru. Dan juga tidak dipungkiri ketika terjadi masalah teknis baik sakit ataupun kendala yang sifatnya darurat, kita membutuhkan bantuan pendaki lain. Hanya tegur sapa tetapi lebih berguna ketika membangun respon orang lain ketika melihat kita kesusahan.

2. Tidak Berebut Jalur
    Ini yang sering terjadi, ketika akhir pekan peningkatan pengunjung di beberapa gunung di Indonesia melonjak tajam apakah karena libur panjang atau hari nasional seperti peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Akibatnya jalur menjadi ramai dan terkadang harus bergantian melewati jalur yang sempit. Untuk itu sebaiknya sedikit bersabar untuk melintas jalur karena dapat mengakibatkan kecelakaan seperti terjatuh karena tersenggol. Untuk dipahami dahulukan yang akan mendaki ketimbang yang turun gunung.

3. Menghormati Adat Istiadat Setempat
    Ada pepatah dari suku minang yang menyatakan "dima bumi dipijak, disitu langik dijunjuang" yang artinya dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Ini untuk mengingatkan kemana pun dan dimana pun berada, tetap ada norma - norma yang berlaku di masyarakat entah itu kekuatan agama atau adat istiadat. Selama tidak mengandung kesyirikan dan dosa besar, tidak apa menghormati dan mengikuti arahan. Inilah gunanya briefing terlebih dahulu baik dilakukan oleh kelompok maupun penjaga pos.

4. Tidak Membuat Kegaduhan; Baik Saat Mendaki Gunung Maupun Camping
    Ketika di gunung, setiap orang memiliki kebutuhan untuk menghibur diri. Kerap kali dilakukan yaitu bercanda bersama teman atau mendengarkan musik. Sebaiknya hal ini tidak dilakukan dengan berlebihan, terutama menggunakan speaker untuk mendengarkan musik dengan keras. Sebab akan mengganggu dan membuat orang lain merasa tidak nyaman. Pada dasarnya dimanapun berada, lebih baik menghormati orang lain daripada untuk kesenangan sendiri yang akan mengganggu orang lain, bukan?

5. Tidak Melakukan Kegiatan Vandalisme
    Sebagian orang hingga saat ini masih kerap melakukan berbagai tindakan vandalisme, entah itu mencoret - coret batu, pohon, ataupun papan petunjuk dengan nama atau berbagai kalimat. Bukankah lebih indah jika alam tetap alami? Jangan takut untuk menegur dan menasehati dengan baik jika melihat pendaki lain ada yang melakukan hal ini. Tentunya dengan sopan, agar lebih mudah diterima ucapan kita.

6. Menghormati kehidupan Liar
    Kurang banyak dicermati dampaknya, sebagian pendaki ada yang merasa kebaikan hatinya muncul ketika melihat binatang - binatang liar yang ditemui di gunung, sehingga memberi makan mereka. Makanan yang didapatkan oleh hewan itu merupakan awal mulainya perubahan perilaku hewan yang tadinya biasa mencari makanan sendiri, menjadi bergantung pada para pendaki yang lewat untuk diberi makan. Seperti banyak kasus babi liar menyeruduk tenda camping para pendaki di beberapa gunung, atau tingkah liar kawanan monyet yang merampas apa saja yang dipunyai pendaki yang lewat. Jika baru sadar, ada baiknya mulai menghilangkan kebiasaan ini jika mendaki gunung.
    Selain itu jika mendengar suara - suara alam baik itu burung, monyet atau apapun yang terdengar, jangan malah menyauti dan menjadi berisik, tentu bagi sebagian pendaki ini merupakan polusi suara karena gunung merupakan tempat yang cocok untuk ketenangan.

7. Jangan Mengotori Gunung Dengan Membuatng Sampah Sembarangan
    Telah ada larangan baik dari instansi pemerintahan (KLHK, SAR, Polisi Hutan) ataupun dari pihak pos pendakian mengenai sampah di gunung. Wajib bagi para pendaki untuk menaati protokol untuk tidak membuang sampah di gunung dan membakar sampah di gunung. 
    Sayangnya hal ini tentu belum semua orang yang menyadari kerusakan lingkungan akibat sampah plastik dan sejenisnya. Padahal, menjaga gunung tetap bersih bukan hanya tugas para penggiat gunung saja, tetapi kesadaran kita semua baik yang hanya menikmati keindahan gunung maupun sebagai pecinta alam.

8. Tidak Mengotori Sumber Air yang Ada
    Etika selanjutnya yang wajib diperhatikan adalah menjaga kebersihan sumber air yang ada di kawasan gunung. Sebab sumber air tidak hanya bermanfaat bagi para pendaki, tetapi juga untuk fauna sekitar gunung. Peran air sebagai penyeimbang ekosistem sangat penting. Untuk itu, mari kita jaga agar dapat terus dirasakan manfaatnya.

9. Mencari Tempat yang Tepat Saat Akan Buang Air di Kawasan Gunung
    Saat ini ada beberapa gunung yang mempunyai fasilitas MCK yang cukup baik. Namun bagi yang tidak terdapat MCK khusus di gunung, baik untuk menimbang berbagai dampak dimana akan membuang air kecil ataupun buang air besar (BAB). Usahakan membuang air jauh dari lokasi kemah, dari jalur pendakian, ataupun dari sumber air. Gali lubang di tanah yang dalam agar tidak berbau, dan jangan lupa tutup kembali. Dengan begitu kita bisa tetap nyaman dan menjaga kekondusifan lingkungan sekitar lokasi camping.

10. Pantang Hukumnya Merusak Flora & Fauna Serta Habitatnya Saat Berada di Gunung
    Sebagai tamu, sudah seharusnya tidak berbuat apapun yang ada di hutan seperti mencabut tumbuhan, terutama yang dilindungi, menebang pohon, atau membawa hewan liar pulang kerumah. Terlebih kawasan konservasi dan tanaman nasional, yang mempunyai hukum tertulis. Dan bagi pelanggar tentu akan dikenakan sanksi. 
    Wajib bagi kita menjaga habitat baik flora dan fauna kawasan gunung. Karena gunung bukan hanya tempat rekreasi, melihat pemandangan, memenuhi kebutuhan media sosial, lalu pergi tanpa ada tanggung jawab sosial yang ditanggung. Sejatinya mendaki gunung adalah perjalanan spiritual, apakah tentang memahami diri sendiri, teman pendakian, ataupun lingkungan alam sekitar.

    Cukup banyak aturan tetapi jika memenuhi semua aspek ini, percayalah gunung akan menjadi tempat yang sangat menyengkan untuk didatangi, lagi dan lagi. Karena yang menciptakan 'iklim' kondisi gunung adalah kita sebagai pendatang. Jika terjaga kekondusifannya, makan hati akan terpikat bahkan dengan hal - hal sederhana seperti tegur sapa atau ngobrol santai dengan pendaki lain. Tak lupa menjaga kelestarian alam. Jangan lupa bawa turun sampahmu kembali dari gunung. Salam Lestari!

Source:

Komentar